Jumat, 27 Maret 2015

Persatuan, “Idealisme” Perubahan


Tema: Perubahan kebudayaan
Subtema: Mengapa kebudayaan itu berubah dan kebudayaan Indonesia yang ideal di masa depan

Persatuan, "Idealisme" Perubahan




            Suatu peradaban manusia pada hakekatnya dibesarkan oleh sistem budaya yang dianut oleh masyarakatnya. Tentu saja, sistem kebudayaan manusia satu dengan yang lain tidak dapat disamaratakan. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Oleh karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Ada kebudayaan yang lebih bersifat liberal dan permisif, tetapi ada juga kebudayaan yang cenderung bersifat terpaku dengan dogma. Biasanya, kebudayaan yang bersifat liberal dan permisif lebih mudah untuk berubah, sedangkan sistem kebudayaan yang terpaku dengan dogma cenderung memiliki  kemampuan berkembang cukup lama. Lalu di luar itu semua, apakah kita punya gambaran atau acuan mengenai perubahan yang menciptakan kebudayaan ideal? Khususnya, harapan kebudayaan ideal yang seharusnya terjadi di Indonesia pada masa depan.
            Budaya atau kebudayaan, sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), sehingga budaya diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya merupakan suatu cara hidup yang terus berkembang dan dimiliki bersama-sama oleh sebuah kelompok orang serta diwariskan secara turun temurun. Budaya tidak terbentuk secara sendirinya, banyak unsur rumit yang membentuk kebudayaan, seperti sistem agama, nilai sosial, norma, keseluruhan struktur-struktur sosial, segala pernyataan intelektual, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Unsur-unsur budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan manusia, salah satunya dengan menyesuaikan bahasa untuk berkomuniasi dengan masyarakat beda kebudayaan yang membuktikan bahwa budaya itu dapat dipelajari.
            Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Di dalamnya terkandung pengetahuan serta kemampuan-kemapuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota kebudayaan. Budaya membentuk gambaran yang bersifat memaksa, membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku serta hal-hal lainnya yang seharusnya di dalam masyarakat melalui dasar yang sering dikaitkan dengan makna dan nilai logis untuk dijadikan acuan anggota-anggotanya yang paling taat sebagai syarat pengakuan keanggotaan suatu budaya tertentu serta untuk keberlangsungan hubungan pertalian antar anggotanya. Secara tidak langsung, budaya menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas manusia dan memungkinkannya untuk meramalkan perilaku manusia lain.
            Kebudayaan akan memengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, meliputi sistem ide atau gagasan manusia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah hal-hal yang diciptakan oleh manusia, berupa perilaku (pola-pola perilaku, cara, kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat) serta benda-benda yang bersifat nyata, seperti bahasa, peralatan hidup/perkakas, pakaian, bangunan, karya seni, dan lain-lain. Kesemuanya itu merupakan hal-hal yang ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
            Kebudayaan  bersifat dinamis, hal ini dapat dibuktikan karena kebudayaan selalu mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu. Secara umum, ada dua jenis faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang muncul dari dalam kelompok masyarakat itu sendiri, seperti sistem pendidikan formal yang maju, adanya ketidakpuasan terhadap kebudayaan yang ada—sehingga muncul gagasan untuk menciptakan unsur kebudayaan baru, berkembangnya sikap menghargai hasil karya orang lain, adanya orientasi ke masa depan, adanya keinginan untuk terus memperbaiki kualitas hidup, adanya inovasi, discovery, dan invention, hingga adanya konflik internal. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor pendorong terjadinya perubahan kebudayaan yang muncul dari luar suatu kelompok masyarakat. Perubahan budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing. Faktor eksternal sendiri tidak dapat lepas dari difusi kebudayaan—penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang bersamaan dengan terjadinya proses kontak sosial antara suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain—dan sistem sosial masyarakat yang terbuka akan kebudayaan asing. Proses difusi ini akan mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan jika sistem sosial pada masyarakat tersebut bersifat terbuka. Oleh sebab itu, kebudayaan yang terbuka, ditambah lagi dengan sifat liberal dan permisif cenderung memudahkan suatu kebudayaan untuk berubah.
            Salah satu bentuk perubahan kebudayaan tersebut dapat berupa perubahan sosial. Perubahan sosial merupakan sebuah gejala berubahnya nilai, struktur sosial, dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Sepanjang adanya kehidupan dan interaksi, hal ini merupakan gejala yang umum terjadi dalam setiap kelompok masyarakat. Perubahan tersebut terjadi sesuai dengan salah satu sifat dasar manusia, yaitu kebosanan yang  menyebabkannya selalu ingin mengadakan perubahan. Perubahan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik secara individu, sekelompok orang, mayoritas masyarakat, hingga pada ruang lingkup yang lebih luas yaitu negara, atau bahkan dunia.
            Pertanyaannya adalah, apakah Indonesia juga mengalami perubahan kebudayaan? Tentu saja iya, seiring berjalannya waktu sudah banyak sejarah yang telah dialami oleh bangsa Indonesia selama ini. Hal tersebut sedikit banyak telah memengaruhi dan memberikan perubahan pada kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada di Indonesia. Dari dulu—waktu yang tidak diketahui pastinya—hingga saat ini pun, perubahan kebudayaan di Indonesia masih terus berlangsung. Mulai dari pengaruh interaksi kebudayaan yang terjadi sebelum masehi, sesudah masehi (zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara), pengaruh yang disebabkan oleh penjajahan nyata (zaman kolonialisme Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis, dan imperialisme Jepang), hingga penjajahan laten di zaman modern ini turut mengubah kebudayaan Indonesia.
            Hal yang cukup menjadi perhatian masyarakat saat ini adalah mulai lunturnya budaya ketimuran bangsa Indonesia akibat adanya pengaruh globalisasi dan modernisasi. Banyak budaya asing yang masuk ke Indonesia tanpa melalu filter, akibatnya masyarakat Indonesia tidak hanya menyerap kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, tetapi juga menyerap seluruh kebudayaan yang mampu merusak eksistensi adat ketimuran. Tidak heran bahwa globalisasi dan modernisasi yang saat ini sedang melanda Indonesia serta seluruh dunia memiliki andil dalam lunturnya adat ketimuran bangsa Indonesia tersebut. Sebagai salah satu negara di dunia, Indonesia bersama negara-negara lainnya tentu saja mempunyai hubungan saling ketergantungan yang menyebabkan tingginya interaksi antar kebudayaan. Dari sinilah, globalisasi melanda tidak hanya Indonesia, tetapi juga seluruh dunia bagaikan efek domino.
            Globalisasi mempengaruhi beberapa kebudayaan di Indonesia, salah satunya adalah berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang telah mengubah cara manusia dalam berkomunikasi. Pada zaman dahulu, komunikasi dilakukan dengan cara yang sangat tradisional, yaitu melalui komunikasi langsung. Mulailah cara berkomunikasi sedikit berkembang melalui surat-menyurat, telegram, dan telagraf. Akan tetapi, saat ini berkomunikasi dapat dilakuan dengan cara yang lebih praktis, yaitu melalui sms, telepon, e-mail, hingga jejaring sosial. Hal-hal di atas telah membuktikan bahwa perkembangan teknologi dapat menyebabkan perubahan kebudayaan di dalam masyarakat. Perkembangan dalam teknologi informasi dan komunikasi ini memiliki dampak paling luas di antara perkembangan teknologi-teknologi lainnya. Dari perkembangan teknologi ini, muncullah pengaruh-pengaruh turunan seperti cara berpakaian sebagian masyarakat yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan barat, berbagai gaya hidup/lifestyle, westernisasi (kebarat-baratan yang menyebabkan ketertarikan kepada budaya lokal semakin menurun), emansipasi wanita, masyarakat yang semakin kritis, hilangnya hal-hal yang bersifat tradisional, pudarnya minat kepada hal-hal yang berbau tradisional, tergerusnya kebudayaan asli Indonesia, hingga penggunaan bahasa daerah yang semakin jarang.
            Beberapa hal di atas, merupakan perubahan sosial budaya yang sering kita jumpai di dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Perlu diingat bahwa perubahaan kebudayaan tersebut tidak selamanya membawa dampak positif, tetapi ada juga yang membawa dampak negatif. Sesungguhnya, semua ini kembali kepada masing-masing individu, apakah kita mampu menyaring kebudayaan-kebudayaan yang masuk secara bebas itu, atau apakah kita ikut larut ke dalam semua perubahan-perubahaan tersebut. Jika perubahan kebudayaan itu baik bagi kita, selayaknya kita manfaatkan secara optimal. Akan tetapi, jika perubahan kebudayaan tersebut memberikan dampak negatif bagi diri kita, hendaknya kita mampu meminimalisir dampak tersebut atau bahkan menjauhinya.
            Pernyataan-pernyataan di atas semakin menguatkan pertanyaan apakah harapan budaya ideal itu sama untuk setiap kelompok masyarakat? Ketika kita membicarakan mengenai kebudayaan ideal yang kita harapkan pada masa depan itu seperti apa, jawabannya akan relatif untuk setiap masyarakat atau bahkan individu. Kebudayaan ideal adalah kebudayaan yang  pantas, disetujui oleh masyarakat, dilestarikan, dan mempengaruhi tingkat pengetahuan, serta meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia. Tidak ada satu pun kebudayaan yang saling terintegrasi secara utuh dalam kaitannya dengan kebudayaan ideal, pasti akan terjadi perberbedaan pada praktek-prakteknya.
            Berhubung di Indonesia terdiri dari 1.340 suku bangsa yang memiliki jawaban berbeda-beda mengenai kebudayaan ideal, bukan berarti kebudayaan ideal yang diharapkan tersebut tidak dapat dicapai. Kebudayaan ideal di Indonesia lebih merujuk pada kebudayaan ideal keseluruhan bangsa Indonesia. Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman atau perbedaan kebudayaan tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Di dalam masyarakat multikultural, setiap orang ditekankan untuk saling menghargai dan menghormati setiap kebudayaan yang ada di masyarakat. Dalam konsep ini, terdapat kaitan yang erat atas pembentukan masyarakat yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika untuk mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bangsa Indonesia. Menurut pengamatan saya selama ini, perubahan kebudayaan itu tidak dapat secara penuh dihindari. Hal ini otomatis menyebabkan keanekaragaman tersebut akan semakin kompleks seiring dengan berjalannya waktu, sehingga menurut saya hal yang paling tepat dalam menyatakan harapan perubahan kebudayaan Indonesia yang ideal di masa depan adalah perubahan yang semakin membawa masyarakat Indonesia sadar akan keanekaragamannya, sadar akan ke-Bhineka Tunggal Ikaannya, serta sadar akan semakin pentingnya persatuan Indonesia. Namun, seperti yang bisa kita rasakan sekarang dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya rasa kesatuan di antara masyarakat Indonesia. Terakhir, saya berharap bahwa apapun perubahan kebudayaan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini atau yang akan terjadi di masa depan, semoga perubahan-perubahan tersebut membawa dampak positif bagi kebudayaan kita, menambah keanekaragaman kebudayaan Indonesia, dan tentunya semakin mempersatukan bangsa Indonesia.

Referensi


0 komentar:

Posting Komentar

Buscar

© 2011 Little Amethyst Girl, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena