Ketergantungan
Bangsa terhadap Para Pemudanya
Pertama-tama, saya akan
menuliskan mengenai krisis karakter yang kini tengah menjangkiti para pemuda
Indonesia. Dimulai dari ketidakmampuan para pemuda dalam menyaring
budaya-budaya atau pengaruh eksternal yang semakin hari kian mencemaskan.
Berita terakhir yang sempat menggemparkan Indonesia yaitu mengenai krisis moral
yang dialami siswa siswi SD yang notabennya bibit-bibit atau para calon
pemimpin bangsa Indonesia kelak. Hal tersebut mungkin selain dari lalainya
pengawasan orang tua juga disebabkan kurangnya pendidikan karakter kepada
anak-anak sejak dini.
Kita sebagai mahasiswa
seharusnya tidak tinggal diam dengan krisis moral yang sedang terjadi. Dalam
hal ini, mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi penerus bangsa.
Indonesia membutuhkan pemimpin bangsa yang cerdas, kompeten, dan memiliki
mental yang tangguh.
Saya sadar, saya sebagai
mahasiswa memiliki “hutang” kepada negara, yaitu berkewajiban sebagai generasi
penerus bangsa untuk memajukan Bangsa Indonesia. Perubahan kecil tersebut
sebenarnya bisa dimulai dari diri sendiri untuk mengembangkan potensi diri,
minimal agar beguna bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar
termasuk Bangsa Indonesia. Sebagai mahasiswa, kita harus memberikan dedikasi
yang terbaik terhadap bangsa Indonesia, sebagai bukti cinta kita terhadap tanah
air.
Sebenarnya ada berbagai
cara untuk merealisasikan satu tujuan tersebut yaitu yang paling mendasar,
dimulai dari diri sendiri. Namun, yang tidak kalah pentingnya yaitu mahasiswa
memerlukan pendidikan karakter, ketrampilan, dan kemampuan berorganisasi, guna
membantu mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin bangsa yang cakap, memliki
landasan karakter serta moral yang kuat, tentunya mampu membawa Indonesia ke
arah yang lebih baik dan menjadikan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang
beradab. Terlebih lagi, di era globalisasi seperti yang sedang terjadi saat ini,
berbagai pengaruh negatif maupun positif dengan sangat mudah dapat mempengaruhi
moral anak-anak bangsa. Tidak akan menjadi masalah jika hal-hal positif
memberikan pengaruhnya kepada para calon pemimpin bangsa. Menurut saya hal
tersebut merupakan pengaruh yang kita harapkan dengan adanya globalisasi yang
melanda tidak hanya Tanah Air Tercinta Indonesia, tetapi juga seluruh dunia.
Tak ada satu bangsa pun
yang bisa terbebas dari adanya pengaruh globalisasi, tetapi jika yang terjadi
adalah pengaruh negatif lebih banyak mempengaruhi daripada positif, kita patut
waspada. Pengaruh negatif dari globalisasi merupakan pengaruh yang dapat
merusak moral anak-anak Bangsa Indonesia. Selain pengaruh negatif yang tampak,
kita patut lebih waspada dengan bahaya laten yang bahkan sering tidak tampak,
atau bisa dikatakan tersembunyi dan diam-diam merusak moral para calon penerus
bangsa. Contoh nyata yang sampai sekarang masih terus berlangsung yakni, acara
hiburan tontonan televisi yang tidak mencerminkan berbagai karakter dan moral
bibit-bibit unggul anak bangsa yang mampu mengentaskan Indonesia dari
keterpurukan. Hingga hasilnya, banyak penyimpangan yang dilakukan oleh
anak-anak muda, bahkan mereka yang diharapkan mampu memimpin bangsa ini kelak
menjadi rusak moralnya hanya karena ketidakmampuan diri dalam menyaring
berbagai pengaruh globalisasi dan kurangnya kontribusi kita sebagai mahasiswa
dan orangtua dalam menanggulanginya melalui pendidikan karakter.
Apakah kita sebagai para
mahasiswa akan tinggal diam? Tentu saja tidak. Banyak cara yang bisa dilakukan,
mulai dari hal yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, semua itu
dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan dan cara kita masing-masing sebagai individu.
Bagi saya sendiri, mendedikasikan diri kepada negeri tercinta lebih mudah jika
dilakukan dengan bersama-bersama. Hal ini dikarenakan, mahasiswa sebagai
generasi mudah penerus bagsa, cenderung mulai mengembangkan kesempatan untuk
berinteraksi dengan teman sebaya, berpartisipasi dalam kelompok, dan
berkompetensi dalam tujuan.
Contoh nyata yang dapat
kita lakukan untuk berkontribusi pada kasus ini yaitu dengan bergabung dalam
oragnisasi yang mampu mewadahi aspirasi dan bersatu dengan tujuan yang sama
yaitu mewujudkan impian Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cerdas dan
bermoral. Di sini, kita bersama-sama dapat dengan bebas dan leluasa
menyampaikan aspirasi yang tentunya disertai tanggung jawab dalam mengembangkan
diri, belajar, berkarya, dan berorganisasi yang tentu saja bertujuan untuk
mendedikasikan diri sebagai mahasiswa aktif yang menuntut kita tidak apatis
dengan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi di sekitar kita. Menjadi
mahasiswa aktif dan berprestasi terhadap negaranya.
Mahasiswa adalah kalangan
elit dalam pendidikan Indonesia, menjadi ujung tombak suatu negara, itulah
alasannya kenapa kontribusi mahasiswa begitu penting bagi Bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu, marilah kita menjadi mahasiswa yang kritis terhadap negeri
tercinta ini, jadilah ujung tombak yang tajam dan kuat.
Aktif dalam organisasi
merupakan modal yang penting untuk bersosialisasi dan melatih jiwa kepemimpinan
kita. Tidak harus melulu menjadi ketua untuk melatih jiwa kepemimpinan, namun
dari bagian terkecil organisasi sekalipun, kita bisa melatih jiwa kepemimpinan
dan menjadi media latihan untuk bisa menjadi pemimpin di masanya kelak.
Selain keaktifan, tanggung
jawab dan integritas juga merupakan modal penting dalam menjalankan sebuah
mandat dalam organisasi. Tidak ada artinya intelektual tanpa integritas, karena
integritas bukan hanya sebuah kata. Menurut definisi saya, intergitas merupakan
perilaku yang mencerminkan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan
yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memiliki karakter kuat
dengan dicirikan memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Sedangkan menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intergritas nasional merupakan wujud keutuhan
prinsip modal dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara.
UGM adalah
salah satu universitas terfavorit di Indonesia, menjadi salah satu universitas
yang paling disoroti di negeri ini. UGM sudah tidak diragukan lagi dalam
melahirkan para mahasiswanya untuk menjadi pemimpin dalam berbagai organisasi
kehidupan, mulai dari menjadi pemimpin organisasi terkecil dalam kehidupan
masyarakat, pemimpin-pemimpin perusahaan, hingga pemimpin negeri tercinta ini
Indonesia Raya. Sudah tentunya tidak diragukan tentang kualitas intelektual
para mahasiswanya, bahkan untuk mendapatkan julukan Gadjah Mada Muda, kita rela
bersaing dengan lebih dari 70.000 pelajar, baik dari dalam negeri maupun dari
luar negeri.
Menjadi sorotan
di negeri ini sungguh menjadi kebanggaan, tetapi yang perlu kita ingat, dari
sanalah lahir tanggung jawab yang besar pula untuk melunasi “hutang” kita
kepada tanah air tercinta. Menjadi sorotan berarti mengemban tugas untuk
menjadi panutan, maka dari sinilah saatnya kita benar-benar berkontribusi
kepada Bangsa Indonesia dan berpartisipasi dalam membangun negeri ini.
Semua berawal
dari kita, wahai para pemuda yang mengaku bertumpah darah yang satu, yang
mengaku berbangsa yang satu, dan yang mengaku berbahasa yang satu, INDONESIA.
Mengembangkan pribadi yang lebih baik menjadi tugas para pemuda untuk di bidang
akademik maupun non-akadaemik yang menjadi modal kelak untuk berpartisipasi
aktif dalam membangun negeri ini. Jadi, Menurut kalian
sebaiknya mau dibawa ke mana kah bangsa kita?
HIDUP MAHASISWA INDONESIA, HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!
Referensi
- Buletin Psikologi, Volume 13 No 1 Juni 2005, “Situated Learning dan Strategi Transfer Kepemimpinan” Fathul Himam
- Jurnal Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, volume 38 No 1 Juni 2011, “Keterlibatan, Keberhargaan dan Kompetensi Sosial sebagai Prediktor Kompetesi pada Remaja” Singgih Wibowo Santosa
- Kamus Besar Bahasa Indonesia Online.Diakses: 5 Maret 2015, 12:12. Sumber: http://kbbi.web.id/integritas
- Naskah Sumpah Pemuda Dimanipulasi? (27 Oktober 2012). Sumber: strategi- militer.blogspot.com, salinan dari artikel di jurnas.co (tidak diketahui tanggal). Diakes: 5 Maret 2015, 12:30.

0 komentar:
Posting Komentar