Rabu, 04 Maret 2015

Sekali Sekali Ngomongin Negara


Ketergantungan Bangsa terhadap Para Pemudanya



            Pertama-tama, saya akan menuliskan mengenai krisis karakter yang kini tengah menjangkiti para pemuda Indonesia. Dimulai dari ketidakmampuan para pemuda dalam menyaring budaya-budaya atau pengaruh eksternal yang semakin hari kian mencemaskan. Berita terakhir yang sempat menggemparkan Indonesia yaitu mengenai krisis moral yang dialami siswa siswi SD yang notabennya bibit-bibit atau para calon pemimpin bangsa Indonesia kelak. Hal tersebut mungkin selain dari lalainya pengawasan orang tua juga disebabkan kurangnya pendidikan karakter kepada anak-anak sejak dini.

            Kita sebagai mahasiswa seharusnya tidak tinggal diam dengan krisis moral yang sedang terjadi. Dalam hal ini, mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi penerus bangsa. Indonesia membutuhkan pemimpin bangsa yang cerdas, kompeten, dan memiliki mental yang tangguh.

            Saya sadar, saya sebagai mahasiswa memiliki “hutang” kepada negara, yaitu berkewajiban sebagai generasi penerus bangsa untuk memajukan Bangsa Indonesia. Perubahan kecil tersebut sebenarnya bisa dimulai dari diri sendiri untuk mengembangkan potensi diri, minimal agar beguna bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar termasuk Bangsa Indonesia. Sebagai mahasiswa, kita harus memberikan dedikasi yang terbaik terhadap bangsa Indonesia, sebagai bukti cinta kita terhadap tanah air.

            Sebenarnya ada berbagai cara untuk merealisasikan satu tujuan tersebut yaitu yang paling mendasar, dimulai dari diri sendiri. Namun, yang tidak kalah pentingnya yaitu mahasiswa memerlukan pendidikan karakter, ketrampilan, dan kemampuan berorganisasi, guna membantu mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin bangsa yang cakap, memliki landasan karakter serta moral yang kuat, tentunya mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan menjadikan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang beradab. Terlebih lagi, di era globalisasi seperti yang sedang terjadi saat ini, berbagai pengaruh negatif maupun positif dengan sangat mudah dapat mempengaruhi moral anak-anak bangsa. Tidak akan menjadi masalah jika hal-hal positif memberikan pengaruhnya kepada para calon pemimpin bangsa. Menurut saya hal tersebut merupakan pengaruh yang kita harapkan dengan adanya globalisasi yang melanda tidak hanya Tanah Air Tercinta Indonesia, tetapi juga seluruh dunia.

            Tak ada satu bangsa pun yang bisa terbebas dari adanya pengaruh globalisasi, tetapi jika yang terjadi adalah pengaruh negatif lebih banyak mempengaruhi daripada positif, kita patut waspada. Pengaruh negatif dari globalisasi merupakan pengaruh yang dapat merusak moral anak-anak Bangsa Indonesia. Selain pengaruh negatif yang tampak, kita patut lebih waspada dengan bahaya laten yang bahkan sering tidak tampak, atau bisa dikatakan tersembunyi dan diam-diam merusak moral para calon penerus bangsa. Contoh nyata yang sampai sekarang masih terus berlangsung yakni, acara hiburan tontonan televisi yang tidak mencerminkan berbagai karakter dan moral bibit-bibit unggul anak bangsa yang mampu mengentaskan Indonesia dari keterpurukan. Hingga hasilnya, banyak penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak muda, bahkan mereka yang diharapkan mampu memimpin bangsa ini kelak menjadi rusak moralnya hanya karena ketidakmampuan diri dalam menyaring berbagai pengaruh globalisasi dan kurangnya kontribusi kita sebagai mahasiswa dan orangtua dalam menanggulanginya melalui pendidikan karakter.

            Apakah kita sebagai para mahasiswa akan tinggal diam? Tentu saja tidak. Banyak cara yang bisa dilakukan, mulai dari hal yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, semua itu dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan dan cara kita masing-masing sebagai individu. Bagi saya sendiri, mendedikasikan diri kepada negeri tercinta lebih mudah jika dilakukan dengan bersama-bersama. Hal ini dikarenakan, mahasiswa sebagai generasi mudah penerus bagsa, cenderung mulai mengembangkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, berpartisipasi dalam kelompok, dan berkompetensi dalam tujuan.

            Contoh nyata yang dapat kita lakukan untuk berkontribusi pada kasus ini yaitu dengan bergabung dalam oragnisasi yang mampu mewadahi aspirasi dan bersatu dengan tujuan yang sama yaitu mewujudkan impian Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cerdas dan bermoral. Di sini, kita bersama-sama dapat dengan bebas dan leluasa menyampaikan aspirasi yang tentunya disertai tanggung jawab dalam mengembangkan diri, belajar, berkarya, dan berorganisasi yang tentu saja bertujuan untuk mendedikasikan diri sebagai mahasiswa aktif yang menuntut kita tidak apatis dengan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi di sekitar kita. Menjadi mahasiswa aktif dan berprestasi terhadap negaranya.

            Mahasiswa adalah kalangan elit dalam pendidikan Indonesia, menjadi ujung tombak suatu negara, itulah alasannya kenapa kontribusi mahasiswa begitu penting bagi Bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, marilah kita menjadi mahasiswa yang kritis terhadap negeri tercinta ini, jadilah ujung tombak yang tajam dan kuat.

            Aktif dalam organisasi merupakan modal yang penting untuk bersosialisasi dan melatih jiwa kepemimpinan kita. Tidak harus melulu menjadi ketua untuk melatih jiwa kepemimpinan, namun dari bagian terkecil organisasi sekalipun, kita bisa melatih jiwa kepemimpinan dan menjadi media latihan untuk bisa menjadi pemimpin di masanya kelak.

            Selain keaktifan, tanggung jawab dan integritas juga merupakan modal penting dalam menjalankan sebuah mandat dalam organisasi. Tidak ada artinya intelektual tanpa integritas, karena integritas bukan hanya sebuah kata. Menurut definisi saya, intergitas merupakan perilaku yang mencerminkan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memiliki karakter kuat dengan dicirikan memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intergritas nasional merupakan wujud keutuhan prinsip modal dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara.

            UGM adalah salah satu universitas terfavorit di Indonesia, menjadi salah satu universitas yang paling disoroti di negeri ini. UGM sudah tidak diragukan lagi dalam melahirkan para mahasiswanya untuk menjadi pemimpin dalam berbagai organisasi kehidupan, mulai dari menjadi pemimpin organisasi terkecil dalam kehidupan masyarakat, pemimpin-pemimpin perusahaan, hingga pemimpin negeri tercinta ini Indonesia Raya. Sudah tentunya tidak diragukan tentang kualitas intelektual para mahasiswanya, bahkan untuk mendapatkan julukan Gadjah Mada Muda, kita rela bersaing dengan lebih dari 70.000 pelajar, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

            Menjadi sorotan di negeri ini sungguh menjadi kebanggaan, tetapi yang perlu kita ingat, dari sanalah lahir tanggung jawab yang besar pula untuk melunasi “hutang” kita kepada tanah air tercinta. Menjadi sorotan berarti mengemban tugas untuk menjadi panutan, maka dari sinilah saatnya kita benar-benar berkontribusi kepada Bangsa Indonesia dan berpartisipasi dalam membangun negeri ini.

            Semua berawal dari kita, wahai para pemuda yang mengaku bertumpah darah yang satu, yang mengaku berbangsa yang satu, dan yang mengaku berbahasa yang satu, INDONESIA. Mengembangkan pribadi yang lebih baik menjadi tugas para pemuda untuk di bidang akademik maupun non-akadaemik yang menjadi modal kelak untuk berpartisipasi aktif dalam membangun negeri ini. Jadi, Menurut kalian sebaiknya mau dibawa ke mana kah bangsa kita?

HIDUP MAHASISWA INDONESIA, HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!

Referensi

  • Buletin Psikologi, Volume 13 No 1 Juni 2005, “Situated Learning dan Strategi Transfer Kepemimpinan” Fathul Himam
  • Jurnal Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, volume 38 No 1 Juni 2011, “Keterlibatan, Keberhargaan dan Kompetensi Sosial sebagai Prediktor Kompetesi pada    Remaja” Singgih Wibowo Santosa
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia Online.Diakses: 5 Maret 2015, 12:12. Sumber:       http://kbbi.web.id/integritas
  • Naskah Sumpah Pemuda Dimanipulasi? (27 Oktober 2012). Sumber: strategi-        militer.blogspot.com, salinan dari artikel di jurnas.co (tidak diketahui tanggal). Diakes: 5 Maret 2015, 12:30.

0 komentar:

Posting Komentar

Buscar

© 2011 Little Amethyst Girl, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena