Rabu, 09 September 2015

Perekonomian Saat Ini “Mencari Kesempatan dalam Kesempitan”



Perekonomian Saat Ini “Mencari Kesempatan dalam Kesempitan”



Sejak akhir tahun 2013, nilai tukar Rupiah terus melemah hingga mencapai angka Rp14.000,- per USD pagi ini. Artinya, Rupiah kembali menembus rekor baru terburuk sepanjang sejarah sejak perdagangan terakhir pada 1998 yang menyentuh level Rp17.000,- per USD. Faktor-faktor penyebab melemahnya nilai tukar Rupiah sangat bervariasi bergantung pada variabel eksternal maupun internalnya. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi saat ini seperti kebijakan dari the Fed AS untuk mengurangi stimulus dan terjadinya currency war yang dilakukan oleh beberapa negara membuat USD semakin menguat. Akhir-ahir ini, keberhasilan China dalam mengimplementasikan currency war menyebkan gelombang kejut di pasar Asia. Langkah tersebut di luar kendali negara-negara berkembang yang memiliki kecenderungan mata uang bersifat soft currency, termasuk Indonesia. Ditambah lagi, fenomena capital flight bisa menjadi salah satu faktor melemahnya nilai tukar Rupiah. Sementara dari faktor internal, bisa disebabkan oleh stabilitas ekonomi-politik yang terjadi di dalam negeri. Beruntung, akhir-akhir ini stabilitas politik di Indonesia masih dikategorikan dalam status aman.

Realitanya, Rupiah memang termasuk salah satu mata uang terlemah di dunia, karena mata uang tersebut mudah berfluktuasi dan terdepresiasi akibat perubahan kondisi perekonomian, baik dari dalam maupun luar negeri. Karena salah satu karakteristik mata uang bersifat soft currency adalah sensitifitasnya yang tinggi terhadap kondisi perekonomian internasional, maka Indonesia harus mampu menjaga sentimen positif baik di dalam negeri maupun dengan luar negeri. Memberikan kepastian hukum, menjaga stabilitas sosial-politik agar tetap kondusif, menjaga keamanan agar tidak terjadi kerusuhan, dan menjaga lingkungan untuk meminimalisir bencana, dsb, merupakan beberapa syarat mutlak untuk mengembalikan kepercayaan asing sehingga mendorong terjadinya capital inflow ke Indonesia. Selain itu, tak kalah penting dan cukup memberikan pengaruh terhadap fluktuasi Rupiah adalah data-data perekonomian Indonesia, seperti pertumbuhan PDB, inflasi, serta neraca perdagangan. Pertumbuhan PDB yang positif akan menunjang kenaikan nilai tukar Rupiah, sebaliknya defisit neraca perdagangan yang membesar akan membuat Rupiah terdepresiasi. Adapun ekspor dan impor dalam neraca perdagangan juga sangat penting diperhatikan, sehingga penting bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan produk impor dengan cara lebih mencintai produk-produk buatan dalam negeri.

Tantangan selanjutnya yang harus dihadapi Indonesia adalah menentukan kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah untuk menyikapi fenomena melemahnya nilai tukar Rupiah tersebut. Indonesia bisa saja mengikuti jejak China untuk melaksanakan kebijakan currency war. Jika dilihat dari segi jumlah penduduk, Indonesia dan China sama-sama memiliki jumlah tenaga kerja yang banyak. Dilihat dari persamaan tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia dapat mengalami pertumbuhan ekonomi yang setara dengan China apabila Indonesia menerapkan kebijakan currency war tersebut. Currency war ini dilakukan dengan cara menurunkan nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang negara tertentu bersamaan dengan menurunkan suku bunga kredit yang bertujuan untuk mendorong produktivitas dalam negeri melalui peningkatan permintaan ekspor. Berhubung Rupiah telah mengalami depresiasi terhadap USD, maka Indonesia tidak perlu melaksanakan kebijakan currency war. Selain itu, Indonesia masih membutuhkan banyak persiapan yang matang dan kontribusi dari semua pihak yang berpengaruh dalam perekonomian apabila currency war diterapkan. Sebaiknya, Indonesia jangan terus-menerus fokus perihal bagaimana membuat nilai tukar Rupiah kembali menguat, tetapi lebih terhadap bagaimana cara menjaga nilai tukar Rupiah agar tetap stabil meskipun dengan jalan membiarkan nilai tukar Rupiah tersebut melemah, bersamaan dengan diimbanginya produksi domestik yang tinggi dan peningkatan volume ekspor. Sedangkan dalam proses produksi tersebut, produsen Indonesia diharapkan dapat menggunakan bahan baku dari dalam negeri untuk meminimumkan biaya produksi. Peran serta pemerintah juga diharapkan dalam meminimumkan biaya produksi dengan cara memberikan subsidi pada produsen dalam negeri didukung dengan regulasi yang baik, birokrasi yang bersih dan sehat, serta perbaikan infrastruktur seperti perbaikan sistem transportasi, dan perbaikan-perbaikan lain yang berhubungan dengan keefektifan pengadaan bahan baku dengan masih mempertimbangan kesejahteraan produsen penyedia bahan baku tersebut. Apabila peran serta pihak-pihak yang berpengaruh dalam perekonomian Indonesia tersebut berjalan sebagaimana mestinya, maka biaya produksi dapat diminimumkan sedemikian rupa sehingga harga produk-produk buatan Indonesia dapat bersaing di kancah global, dengan tetap memperhatikan mutu dan kualitasnya. Keberhasilan ini tentu saja akan meningkatkan GDP dan pendapatan nasional Indonesia. Selain itu, pemerintah juga harus mampu mendukung berkembangnya usaha mikro kecil menengah yang sangat banyak di Indonesia dengan cara mengeluarkan kebijakan perihal penurunan suku bunga kredit dan permudahan dalam mengajukan kredit atau peminjaman dana untuk pengembangan usaha dan bisnis. Pemerataannya pun perlu diperhatikan agar daerah terpencil dan tertinggal juga dapat menggali potensi mengenai komoditas unggulan mereka untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan ekspor tentu saja.

Sumber dan referensi:
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015
·         31 Agustus 2015

Read More

Buscar

© 2011 Little Amethyst Girl, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena