Perekonomian Saat Ini “Mencari Kesempatan dalam Kesempitan”
Sejak akhir tahun 2013, nilai tukar Rupiah terus
melemah hingga mencapai angka Rp14.000,- per USD pagi ini. Artinya, Rupiah kembali menembus rekor baru terburuk
sepanjang sejarah sejak perdagangan terakhir pada 1998 yang menyentuh level Rp17.000,-
per USD. Faktor-faktor penyebab
melemahnya nilai tukar Rupiah sangat bervariasi bergantung pada variabel
eksternal maupun internalnya. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi saat
ini seperti kebijakan dari the Fed AS
untuk mengurangi stimulus dan terjadinya currency
war yang dilakukan oleh beberapa negara membuat USD semakin menguat. Akhir-ahir ini, keberhasilan China dalam mengimplementasikan currency war menyebkan gelombang kejut
di pasar Asia. Langkah tersebut di luar kendali negara-negara berkembang yang
memiliki kecenderungan mata uang bersifat soft
currency, termasuk Indonesia. Ditambah lagi, fenomena capital flight bisa menjadi salah satu faktor melemahnya nilai
tukar Rupiah. Sementara dari faktor internal, bisa disebabkan oleh stabilitas ekonomi-politik
yang terjadi di dalam negeri. Beruntung, akhir-akhir ini stabilitas politik di
Indonesia masih dikategorikan dalam status aman.
Realitanya, Rupiah memang termasuk salah satu mata
uang terlemah di dunia, karena mata uang tersebut mudah berfluktuasi dan
terdepresiasi akibat perubahan kondisi perekonomian, baik dari dalam maupun
luar negeri. Karena salah satu karakteristik mata uang bersifat soft currency adalah sensitifitasnya
yang tinggi terhadap kondisi perekonomian internasional, maka Indonesia harus
mampu menjaga sentimen positif baik di dalam negeri maupun dengan luar negeri.
Memberikan kepastian hukum, menjaga stabilitas sosial-politik agar tetap
kondusif, menjaga keamanan agar tidak terjadi kerusuhan, dan menjaga lingkungan
untuk meminimalisir bencana, dsb, merupakan beberapa syarat mutlak untuk mengembalikan kepercayaan asing sehingga mendorong terjadinya capital inflow ke Indonesia. Selain itu,
tak kalah penting dan cukup memberikan pengaruh terhadap fluktuasi Rupiah
adalah data-data perekonomian Indonesia, seperti pertumbuhan PDB, inflasi,
serta neraca perdagangan. Pertumbuhan PDB yang positif akan menunjang kenaikan nilai tukar Rupiah, sebaliknya defisit
neraca perdagangan yang membesar
akan membuat Rupiah terdepresiasi. Adapun
ekspor dan impor dalam neraca perdagangan juga sangat penting diperhatikan, sehingga penting bagi Indonesia untuk
meningkatkan ekspor dan mengurangi
ketergantungan produk impor dengan cara lebih mencintai
produk-produk buatan dalam negeri.
Tantangan
selanjutnya yang harus dihadapi Indonesia adalah menentukan kebijakan yang
harus diambil oleh pemerintah untuk menyikapi fenomena melemahnya nilai tukar
Rupiah tersebut. Indonesia bisa saja mengikuti jejak China untuk melaksanakan kebijakan currency war. Jika dilihat dari segi jumlah penduduk, Indonesia dan
China sama-sama memiliki jumlah
tenaga kerja yang banyak. Dilihat dari persamaan tersebut, tidak menutup
kemungkinan bahwa Indonesia dapat mengalami pertumbuhan ekonomi yang setara
dengan China apabila Indonesia
menerapkan kebijakan currency war
tersebut. Currency war ini dilakukan
dengan cara menurunkan nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang negara
tertentu bersamaan dengan menurunkan suku bunga kredit yang bertujuan untuk
mendorong produktivitas dalam negeri melalui peningkatan permintaan ekspor.
Berhubung Rupiah telah mengalami depresiasi terhadap USD, maka Indonesia tidak perlu melaksanakan kebijakan currency war. Selain itu, Indonesia
masih membutuhkan banyak persiapan yang matang dan kontribusi dari semua pihak
yang berpengaruh dalam perekonomian apabila currency
war diterapkan. Sebaiknya, Indonesia jangan terus-menerus fokus perihal
bagaimana membuat nilai tukar Rupiah kembali menguat, tetapi lebih terhadap
bagaimana cara menjaga nilai tukar Rupiah agar tetap stabil meskipun dengan jalan
membiarkan nilai tukar Rupiah tersebut melemah, bersamaan dengan diimbanginya produksi
domestik yang tinggi dan peningkatan volume ekspor. Sedangkan dalam proses
produksi tersebut, produsen Indonesia diharapkan dapat menggunakan bahan baku dari
dalam negeri untuk meminimumkan biaya produksi. Peran serta pemerintah juga
diharapkan dalam meminimumkan biaya produksi dengan cara memberikan subsidi pada
produsen dalam negeri didukung dengan regulasi yang baik, birokrasi yang bersih
dan sehat, serta perbaikan infrastruktur seperti perbaikan sistem transportasi,
dan perbaikan-perbaikan lain yang berhubungan dengan keefektifan pengadaan
bahan baku dengan masih mempertimbangan kesejahteraan produsen penyedia bahan
baku tersebut. Apabila peran serta pihak-pihak yang berpengaruh dalam
perekonomian Indonesia tersebut berjalan sebagaimana mestinya, maka biaya
produksi dapat diminimumkan sedemikian rupa sehingga harga produk-produk buatan
Indonesia dapat bersaing di kancah global, dengan tetap memperhatikan mutu dan
kualitasnya. Keberhasilan ini tentu saja akan meningkatkan GDP dan pendapatan
nasional Indonesia. Selain itu, pemerintah juga harus mampu mendukung
berkembangnya usaha mikro kecil menengah yang sangat banyak di Indonesia dengan
cara mengeluarkan kebijakan perihal penurunan suku bunga kredit dan permudahan
dalam mengajukan kredit atau peminjaman dana untuk pengembangan usaha dan
bisnis. Pemerataannya pun perlu diperhatikan agar daerah terpencil dan
tertinggal juga dapat menggali potensi mengenai komoditas unggulan mereka untuk
meningkatkan produksi dalam negeri dan ekspor tentu saja.
Sumber
dan referensi:
·
31 Agustus 2015
·
31 Agustus 2015
·
31 Agustus 2015
http://economy.okezone.com/read/2015/08/30/20/1205083/ekonomi-ri-diuntungkan-oleh-stabilitas-politik
·
31 Agustus 2015 http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/11/09/123997/tiga_unit_rumah_terbakar_di_dairi/
·
31 Agustus 2015
·
31 Agustus 2015
·
31 Agustus 2015
·
31 Agustus 2015
·
31 Agustus 2015